← Kembali ke Blog
Sastra

Guguritan: Seni Puisi Tradisional Bahasa Sunda

2 April 2026·6 menit baca
📜

Guguritan adalah bentuk puisi tradisional bahasa Sunda yang ditulis dalam tembang (nyanyian) dengan aturan bait, suku kata, dan nada yang ketat. Berbeda dari puisi bebas modern, guguritan adalah seni yang membutuhkan keahlian dan penguasaan bahasa Sunda tingkat tinggi.

Apa itu Pupuh? Guguritan menggunakan pola metrum yang disebut pupuh. Ada 17 jenis pupuh dalam sastra Sunda, masing-masing memiliki aturan jumlah baris per bait (guru wilangan) dan bunyi vokal akhir tiap baris (guru lagu).

Jenis-Jenis Pupuh Utama

1. Kinanti Paling populer. Tiap bait 6 baris, bersuasana rindu dan harapan. Sering digunakan untuk mengungkap perasaan cinta atau kerinduan: *"Budak leutik bisa ngaji, keur gedéna jadi pinter..."*

2. Sinom 9 baris per bait, bersuasana gembira dan optimis. Sering dipakai dalam nasihat dan pendidikan: *"Héy para nonoman Sunda, pék regepkeun ieu carita..."*

3. Asmarandana 7 baris per bait, bersuasana sedih dan memendam rindu. Sering digunakan dalam prosa liris tentang cinta yang terhalang.

4. Dangdanggula 10 baris per bait, bersuasana agung dan bijaksana. Dipakai dalam teks keagamaan atau nasihat untuk pemimpin.

Guguritan di Era Modern Meski jarang dalam percakapan sehari-hari, guguritan masih diajarkan di sekolah dasar dan menengah Jawa Barat sebagai bagian dari muatan lokal bahasa Sunda. Festival guguritan juga rutin diselenggarakan untuk melestarikan seni ini.

Contoh Guguritan Sederhana (Kinanti) *"Cai ngalir ti gunung luhur,* *Ngurilingan tegal sawah,* *Urang Sunda kudu jujur,* *Dina sagala rupa perkara,* *Hade goreng ulah poho,* *Ka indung Bapa nu geus tua."*

🌐

Mau coba translate bahasa Sunda langsung?

Gunakan Translate Sunda secara gratis — Halus (Lemes), Sedang, dan Kasar (Wantah).

Coba Sekarang →