Sangkuriang adalah salah satu cerita rakyat paling populer dari tanah Sunda, mengisahkan asal-usul Gunung Tangkuban Perahu di Jawa Barat.
Sinopsis Cerita Dayang Sumbi, seorang putri cantik, mengandung seorang anak dari seekor anjing bernama Tumang. Anak itu diberi nama Sangkuriang. Suatu hari, Sangkuriang diperintahkan berburu ke hutan. Tanpa tahu bahwa Tumang adalah ayahnya, ia membunuh anjing itu karena tak berhasil mendapat hewan buruan.
Dayang Sumbi murka dan mengusir Sangkuriang. Bertahun-tahun kemudian, Sangkuriang yang telah dewasa kembali dan jatuh cinta pada seorang wanita cantik — tanpa menyadari bahwa ia adalah ibunya sendiri. Dayang Sumbi mengenali Sangkuriang dari bekas luka di kepalanya.
Syarat yang Mustahil Dayang Sumbi menyetujui lamaran dengan syarat mustahil: Sangkuriang harus membendung Sungai Citarum dan membuat perahu besar dalam semalam. Sangkuriang hampir berhasil dengan bantuan makhluk gaib. Namun Dayang Sumbi menipu, membuat fajar tiba lebih awal dengan menebarkan kain berwarna merah di timur.
Sangkuriang murka. Ia menendang perahu besar yang hampir jadi itu hingga terbalik — perahu itulah yang kini kita kenal sebagai Gunung Tangkuban Perahu (perahu yang terbalik).
Nilai Moral Cerita Legenda ini mengajarkan tentang bahaya keserakahan, pentingnya kejujuran dalam hubungan, dan konsekuensi dari tindakan yang dilakukan tanpa pikir panjang. Dalam perspektif budaya Sunda, kisah ini juga menggambarkan keharmonisan manusia dengan alam.
Dalam Bahasa Sunda "Sangkuriang" secara harfiah bisa diartikan sebagai nama tokoh, sementara "Tangkuban Perahu" (ᮒᮀᮊᮥᮘᮔ᮪ ᮕᮨᮛᮠᮥ) berarti "perahu yang terbalik" dalam bahasa Sunda.
Gunakan Translate Sunda secara gratis — Halus (Lemes), Sedang, dan Kasar (Wantah).
Coba Sekarang →