Wayang golek adalah seni pertunjukan boneka tiga dimensi dari kayu yang berasal dari Jawa Barat. Berbeda dengan wayang kulit Jawa, wayang golek menggunakan boneka kayu utuh yang dapat digerakkan seluruh tubuhnya.
Sejarah Wayang Golek Wayang golek diperkirakan berkembang pada abad ke-16 hingga ke-17 di wilayah Sunda, bertepatan dengan masuknya pengaruh Islam. Tokoh yang dianggap berjasa menyebarkan wayang golek adalah Sunan Kudus dan para Wali Sanga yang menggunakannya sebagai media dakwah.
Struktur Pertunjukan Pertunjukan wayang golek dipimpin oleh dalang, seniman utama yang menghidupkan semua tokoh, bernarasi, dan memimpin musik pengiring (gamelan Sunda atau degung). Seorang dalang handal bisa memainkan puluhan boneka dengan suara, karakter, dan gerakan yang berbeda-beda.
Tokoh-Tokoh Utama Cerita wayang golek bersumber dari epos India (Mahabharata dan Ramayana) yang telah di-Sundanisasi. Tokoh paling ikonik adalah Cepot โ punakawan dengan wajah merah dan kepribadian jenaka. Cepot adalah suara rakyat, pengkritik sosial, dan pelawak yang menghadirkan tawa di tengah kisah serius.
Wayang Golek dan Bahasa Sunda Pertunjukan wayang golek menggunakan bahasa Sunda dalam berbagai tingkatan. Tokoh bangsawan berbicara dalam basa lemes, sementara tokoh rakyat seperti Cepot menggunakan basa sedang atau kasar (wantah) yang penuh humor. Ini menjadikan wayang golek media pembelajaran bahasa Sunda yang kaya.
Pengakuan Dunia UNESCO mengakui wayang (termasuk wayang golek) sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity sejak 2003.
Gunakan Translate Sunda secara gratis โ Halus (Lemes), Sedang, dan Kasar (Wantah).
Coba Sekarang โ