← Kembali ke Blog
Aksara

Aksara Sunda: Panduan Lengkap Membaca dan Menulis Kaganga

29 Maret 2026¡8 menit baca
✍️

Aksara Sunda, yang juga dikenal sebagai Aksara Kaganga, adalah sistem tulisan abugida yang digunakan untuk menulis bahasa Sunda. Aksara ini telah diakui oleh UNESCO sebagai bagian dari warisan budaya dunia dan sejak 2008 sudah dikodekan dalam standar Unicode internasional (U+1B80–U+1BBF).

Sistem tulisan ini unik karena bersifat abugida — setiap konsonan secara otomatis membawa bunyi vokal "a" kecuali diberi tanda khusus (rarangkén) untuk mengubahnya. Ini berbeda dari alfabet Latin yang vokal dan konsonannya berdiri sendiri-sendiri.

Sejarah Aksara Sunda Aksara Sunda berkembang dari aksara Pallawa yang dibawa dari India melalui jalur perdagangan pada abad ke-5 Masehi. Prasasti tertua bertulisan aksara Sunda berasal dari abad ke-7 Masehi, ditemukan di wilayah Kerajaan Sunda. Sampai abad ke-18, aksara ini aktif digunakan sebelum kemudian tergantikan oleh tulisan Latin di era kolonial Belanda.

Pada era Kerajaan Pajajaran, aksara Sunda digunakan untuk menulis naskah-naskah penting seperti Carita Parahiyangan dan Sewaka Darma — dokumen sejarah yang kini menjadi warisan tak ternilai.

Huruf-Huruf Dasar (NgalagĂŠna) Aksara Sunda terdiri dari 18 huruf konsonan dasar yang disebut ngalagĂŠna. Setiap huruf sudah mengandung bunyi vokal "a" di dalamnya:

  • Ka (ᮊ) Ga (ᮌ) Nga (ᎍ)
  • Ca (ᮎ) Ja (ᎏ) Nya (ᮑ)
  • Ta (ᮒ) Da (ᮓ) Na (ᮔ)
  • Pa (ᮕ) Ba (᎘) Ma (ᮙ)
  • Ya (ᮚ) Ra (ᮛ) La (ᮜ)
  • Wa (᎝) Sa (ᮞ) Ha (Ꭰ)

Vokal Mandiri (Swara) Ketika vokal berdiri sendiri di awal kata atau suku kata, digunakan huruf vokal mandiri: A (ᮃ), I (ᮄ), U (ᮅ), É (ᮆ), O (ᮇ), E (ᮈ), EU (ᮉ).

Vokal EU adalah bunyi khas bahasa Sunda yang tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Ini adalah salah satu ciri paling khas yang membedakan bahasa Sunda dari bahasa Jawa.

Rarangkén (Tanda Vokal) Untuk mengubah bunyi vokal konsonan, digunakan rarangkén (tanda diakritik): - Panghulu — untuk bunyi "i" (contoh: ᮊᮤ = ki) - Panyukú — untuk bunyi "u" (contoh: ᮊᮥ = ku) - Pamepet — untuk bunyi "e" (contoh: ᮊᮨ = ke) - Paneuleung — untuk bunyi "eu" (contoh: ᮊᮩ = keu) - Pamaaeh (᮪) — untuk mematikan vokal inherent (contoh: ᮊ᮪ = k)

Cara Membaca Kata dalam Aksara Sunda Mari coba baca kata "Sunda" dalam aksara: ᮞᮥᮔ᮪ᮓ - ᮞ = Sa - ᮥ = rarangkén u → jadi "su" - ᮔ = Na - ᮪ = Pamaaeh → Na jadi "n" - ᮓ = Da (dengan vokal inherent "a") - Hasil: S-u-n-d-a = "Sunda" ✓

Untuk panduan transliterasi yang lebih lengkap, baca artikel Panduan Transliterasi Aksara Sunda ke Latin.

Coba Langsung di TranslateSunda.id Kamu tidak perlu menghafal semua aksara sekaligus. Gunakan fitur Translate Aksara Sunda untuk langsung mencoba menulis teks Latin dan melihat hasilnya dalam Aksara Sunda, dilengkapi papan ketik on-screen dan panduan referensi lengkap. Gratis dan tidak perlu registrasi!

Aksara Sunda di Era Modern Sejak 2008, aksara Sunda resmi terdaftar di Unicode block U+1B80–U+1BBF, memungkinkan penggunaannya di perangkat digital. Font resmi yang direkomendasikan adalah Noto Sans Sundanese dari Google Fonts. Kini aksara Sunda bisa diketik di smartphone, ditampilkan di website, dan dilestarikan secara digital untuk generasi mendatang.

Baca juga: Belajar Aksara Sunda dari Nol dan Sejarah Panjang Bahasa Sunda.

ᎃ

Coba Langsung Transliterasi Aksara Sunda!

Latin → Aksara Sunda, Aksara → Latin, papan ketik on-screen — semuanya gratis di TranslateSunda.id

Buka Aksara Sunda →

Artikel Terkait